Pelatihan Semikonduktor Kolaborasi Perusahaan Arm dengan Danantara

`

Jakarta Selatan, 20 Mei 2026 — Tutik Lestari, S.Si., M.Kom., dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Darunnajah Jakarta turut hadir sebagai peserta dalam Joint Semiconductor Training yang diselenggarakan di Menara Mandiri Lantai 9, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Pelatihan strategis ini berlangsung selama tiga hari, 20 hingga 22 Mei 2026, dan menjadi salah satu langkah nyata Indonesia dalam membangun ekosistem semikonduktor nasional yang berdaulat.

Kolaborasi Besar di Balik Pelatihan

Program ini bukan pelatihan biasa. Joint Semiconductor Training diinisiasi oleh Danantara Indonesia bersama Arm Ltd. — perusahaan desain chip terdepan di dunia — dengan dukungan penuh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian).

Pembukaan pelatihan dilakukan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang menegaskan urgensi kemandirian Indonesia di sektor semikonduktor. Hadir pula Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman, Rektor Institut Teknologi Bandung Tatacipta Dirgantara, Founder dan Chairman PT Jababeka Tbk. Setyono Djuandi Darmono, serta perwakilan universitas dari seluruh penjuru Indonesia.

Mengapa Semikonduktor, dan Mengapa Sekarang?

Arm bukan nama sembarangan dalam lanskap teknologi global. Perusahaan asal Inggris ini menguasai 96 persen teknologi chip otomotif global dan 94 persen desain chip untuk kecerdasan buatan (AI) serta pusat data. Menko Airlangga menyebut Arm sebagai “pemain paling hulu” dalam industri semikonduktor — artinya, siapa pun yang menguasai ekosistem Arm, ia berada di jantung rantai pasokan teknologi dunia.

Kerja sama strategis antara Danantara Indonesia dan Arm Ltd. dibangun di atas tiga pilar utama:

  1. Akses terhadap kekayaan intelektual (IP)di berbagai domain teknologi strategis, membuka pintu bagi Indonesia untuk merancang chip sendiri.
  2. Pengembangan talenta semikonduktordengan target ambisius melatih 15.000 insinyur Indonesia dalam ekosistem Arm, memperkuat kompetensi di bidang desain chip, IoT, dan teknologi digital masa depan.
  3. Pengembangan proyek khususyang direncanakan menjadi tonggak penting industri teknologi nasional pada 2028.

Pendekatan yang dipilih adalah fabless design — merancang chip di dalam negeri, lalu memproduksinya melalui fasilitas fabrikasi global. Strategi ini memungkinkan Indonesia masuk ke industri semikonduktor tanpa harus membangun pabrik chip sendiri dari awal.

Kesempatan Langka untuk Talenta Indonesia

Program ini terbuka secara gratis bagi peserta — tidak ada biaya pelatihan yang dikenakan. Peserta mendapatkan kesempatan belajar langsung dari para praktisi industri semikonduktor global yang berpengalaman, menyerap pengetahuan tentang ekosistem teknologi terkini dari sumbernya langsung.

Seluruh peserta yang menyelesaikan program menerima sertifikat resmi yang diakui oleh penyelenggara. Lebih dari itu, peserta dengan performa terbaik berpeluang direkrut langsung oleh perusahaan BUMN Indonesia — menjadikan pelatihan ini bukan sekadar pendidikan, melainkan juga jembatan karier ke industri strategis nasional.

“Indonesia Harus Jadi Pencipta, Bukan Sekadar Pasar”

Menko Airlangga menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh berhenti sebagai konsumen teknologi. “Ini adalah kesempatan bagi para engineers untuk menunjukkan kemampuan mereka, terutama dalam membuat Indonesia mandiri di sektor semikonduktor,” ujarnya saat membuka pelatihan.

Visi tersebut selaras dengan pentingnya kolaborasi triple helix antara pemerintah, industri, dan akademisi. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya mengirimkan peserta, tetapi juga mengembangkan kurikulum semikonduktor, laboratorium mikroelektronika, dan ekosistem startup teknologi — agar riset dan inovasi dapat langsung terintegrasi dengan kebutuhan industri.

Dari Komputasi ke Chip Design

Keikutsertaan Tutik Lestari, S.Si., M.Kom. dalam pelatihan ini mencerminkan kesadaran bahwa penguasaan teknologi tidak cukup hanya di level perangkat lunak. Dengan latar belakang sains dan ilmu komputer, Tutik membawa bekal yang relevan untuk memahami ekosistem desain chip berbasis arsitektur Arm — fondasi dari hampir seluruh perangkat pintar yang ada saat ini, mulai dari smartphone hingga sistem AI di pusat data.

Pelatihan tiga hari di Menara Mandiri ini menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun kompetensi semikonduktor Indonesia — dan Tutik Lestari adalah salah satu dari talenta yang memilih untuk berada di garis terdepan transformasi itu.

Pelatihan berlangsung 20–22 Mei 2026 di Menara Mandiri Lt. 9, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Program ini merupakan bagian dari kemitraan strategis Danantara Indonesia–Arm Ltd. dalam membangun ekosistem semikonduktor terintegrasi Indonesia.

 

FST_ABT

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *